Sesaat saja kuhentak reungan membelah waktu,
seperti terduduk dalam keremangan yg membunuh malam. . .
engkau telah pergi dari pelukan hujan.
absurd,
lelah seperti memanggil dari balik hari,
kembali pada setapak yg menurun menuju lembah gurauan,
senyumku tergelak lewati garis - garis yg gundah. . .
menunggu jawaban dari tarian waktu yg hening mengeja namamu.
seperti tulisan yg berjalan menyusuri makna cinta,
melalui syair aku hanya terdiam dan menghitung,
berapa banyak perasaan yg kembali pada mimpi?
seolah engkau bukan nyata.
Engkau adalah manifestasi fisik dari fantasiku. . .
Biarpun kataku tertatih menjawab cintamu,
derap hatiku slalu mengingat senyummu,
Engkau kembali pada warna ungu,
yg absurd memjembatani tiap tulisan yg kubuat untukmu.
seperti terduduk dalam keremangan yg membunuh malam. . .
engkau telah pergi dari pelukan hujan.
absurd,
lelah seperti memanggil dari balik hari,
kembali pada setapak yg menurun menuju lembah gurauan,
senyumku tergelak lewati garis - garis yg gundah. . .
menunggu jawaban dari tarian waktu yg hening mengeja namamu.
seperti tulisan yg berjalan menyusuri makna cinta,
melalui syair aku hanya terdiam dan menghitung,
berapa banyak perasaan yg kembali pada mimpi?
seolah engkau bukan nyata.
Engkau adalah manifestasi fisik dari fantasiku. . .
Biarpun kataku tertatih menjawab cintamu,
derap hatiku slalu mengingat senyummu,
Engkau kembali pada warna ungu,
yg absurd memjembatani tiap tulisan yg kubuat untukmu.
No comments:
Post a Comment